Sunday, February 24, 2013

Dampak dan Akibat Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa


Pengadaan barang dan jasa yang baik merupakan alat yang tepat untuk penerapan kebijakan publik di seluruh sektor dan merupakan instrument dalam membangun tata kelola yang baik dan tata pemerintahan yang baik.
Tujuan utama pengadaan barang dan jasa di pemerintah adalah meningkatkan kepuasan masyarakat. Seperti tujuan pemerintah yang lainya. Pengadaan barang dan jasa yang baik, seharusnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, persaingan usaha yang sehat dan efisien (dan hindari pemborosan!) dalam penggunaan anggaran. Pengadaan barang dan jasa yang baik merupakan alat yang tepat untuk penerapan kebijakan publik di seluruh sektor dan merupakan instrument dalam membangun tata kelola yang baik dan tata pemerintahan yang baik.
Sebaliknya, korupsi dalam pengadaan barang dan jasa akan meningkatkan angka kemiskinan dan menyebabkan ketidakmerataan pembangunan akibat penyelewengan uang negara diluar kepentingan rakyat. Selain itu juga akan menciptakan prilaku buruk yang mendorong persaingan usaha yang tidak sehat karena didasari dengan penyuapan, bukan karena kualitas dan bermanfaat. Untuk sektor swasta, korupsi dalam pengadaan barang dan jasa berdampak pada ketidakadilan, ketidakseimbangan, dan iklim kompetisi usaha yang tidak sehat. Hal ini akan berdampak pada tingginya harga pasaran karena banyak perusahaan kompetitor yang gulung tikar akibat tidak mampu membayar suap. Berikut merupakan aspek yang dikenali sebagai dampak praktik korupsi dalam pengadaan barang dan jasa di pemerintah:

Dampak Finansial

Dampak Finansial dapat terdiri dari:
  • Pengeluaran tidak penting dengan biaya mahal untuk pembelanjaan, investasi, jasa, atau pendapatan negara menjadi rendah karena tidak diperlukannya surat ijin, perijinan, konsensi dan sebagainya;
  • Sub perincian kualitas penyediaan atau pekerjaan tidak sesuai dengan harga yang dibayar;
  • Pembebanan kewajiban keuangan kepada pemerintah atas pembelanjaan atau penanaman modal yang tidak diperlukan atau tidak bermanfaat yang secara ekonomi biasanya bernilai sangat besar; dan
  • Pembebanan atas biaya perbaikan awal kepada pemerintah yang kerap diikuti dengan berbagai alasan biaya perawatan.

Dampak Ekonomi

Dampak ekonomi dapat terdiri atas beban kepada pemerintah untuk biaya pelaksanaan, perawatan dan peminjaman hutang untuk investasi atau pembelanjaan, yang tidak digunakan secara benar demi kepentingan ekonomi negara. Lebih jauh, dampak ekonomi dapat terjadi apabila tingkat penanaman modal terus berkurang sebagai akibat tingginya angka korupsi yang dapat mengancam para penyelenggara bisnis,sehingga kelak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerja.

Dampak Lingkungan

Korupsi dalam pengadaan barang dan jasa dapat mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan. Karena proyek-proyek yang dikerjakan biasanya tidak mengikuti standarisasi lingkungan negara tersebut (atau internasional). Akibat dari penolakan mengikuti standarisasi tersebut akan berdampak kerusakan parah pada lingkungan dalam jangka panjang dan tentunya berimplikasi pada tingginya resiko masalah kesehatan.

Dampak pada Kesehatan dan Keselamatan Manusia

Resiko kerusakan dapat terjadi pada kesehatan dan keselamatan manusia berbagai akibat kualitas lingkungan yang buruk, penanaman modal yang anti-lingkungan atau ketidakmampuan memenuhi standarisasi kesehatan dan lingkungan. Korupsi akan menyebabkan kualitas pembangunan buruk, yang dapat berdampak pada kerentanan bangunan sehingga memunculkan resiko korban.

Dampak pada Inovasi

Korupsi membuat kurangnya kompetisi yang akhirnya mengarah kepada kurangnya daya inovasi. Perusahaan-perusahaan yang bergantung pada hasil korupsi tak akan menggunakan sumber dayanya untuk melakukan inovasi. Hal ini akan memicu perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan korupsi untuk tidak merasa harus menanamkan modal berbentuk inovasi karena korupsi telah membuat mereka tidak mampu mengakses pasar.
Pengadaan barang dan jasa yang baik merupakan alat yang tepat untuk penerapan kebijakan publik di seluruh sektor dan merupakan instrument dalam membangun tata kelola yang baik dan tata pemerintahan yang baik.

Erosi Budaya

Ketika orang menyadari bahwa tidak jujurnya pejabat publik dan pelaku bisnis, serta lemahnya penegakan hukum bagi pelaku-pelaku korupsi, akan menyebabkan masyarakat meninggalkan budaya kejujuran dengan sendirinya dan membentuk kepribadian masyarakat yang tamak.
Hal serupa juga terjadi pada pelaku bisnis yang akan menyadari bahwa menawarkan harga dan kualitas yang kompetitif saja, tak akan cukup untuk memenuhi persyaratan sebagai pemenang tender.

Menurunnya Tingkat Kepercayaan Kepada Pemerintah

Ketika orang menyadari bahwa pelaku korupsi dilingkungan pemerintahan tidak dijatuhi hukuman, mereka akan menilai bahwa pemerintah tak dapat dipercaya. Kemudian secara moral, masyarakat seakan mendapat pembenaran atas tindakannya mencurangi pemerintah karena dianggap tidak melanggar nilai-nilai kemanusiaan.

Kerugian Bagi Perusahaan yang Jujur

Jika peserta tender yang melakukan korupsi tidak mendapat hukuman, hal ini akan menyebabkan peserta yang jujur akan mengalami kerugian karena kehilangan kesempatan melakukan bisnisnya. Meski sesungguhnya hasil pekerjaanya jauh lebih baik dibanding perusahaan korup yang mengandalkan korupsi untuk mendapatkan tender dengan kualitas pekerjaan yang dapat dipastikan buruk.

Ancaman Serius Bagi Perkembangan Ekonomi

Jika pemerintah mentolelir korupsi dalam belanja barang dan jasa serta investasi, dan dasar pemilihan investasi yang tidak dilandasi pada perkembangan perekonomian – tetapi lebih karena suap- maka cepat atau lambat negara tidak mampu membiayai investasinya sendiri. Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan mengundang investor asing dengan iming-iming berbagai fasilitas kemudahan. Kebijakan ini tentu akan melumpuhkan perkembangan ekonomi domestik dan masyarakat miskin akan menjadi korban.
Sumber referensi :: Mencegah Korupsi Dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik, Penerbit: TI, Halaman: 19-22.

Saturday, February 23, 2013

Kenapa 1 jam = 60 menit atau 1 Menit = 60 Detik ?


Kenapa 1 Menit = 60 Detik ?
Terkadang ada saja pertanyaan konyol namun butuh penjelasan yang logis. Misalnya, Mengapa dalam 1 jam itu harus 60 menit, dan dalam 1 menit itu butuh 60 detik?
Kenapa tidak dibulatkan saja misalnya dalam 1 jam itu 100 menit saja.
Pertanyaan ini memang cukup rumit dijawab bagi yang belum tahu alasannya.
Semoga saja postingan kali ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan untuk menjawab mengapa hal tersebut bisa terjadi.

1 jam = 60 menit, dan 1 menit = 60 detik karena bilangan 60 adalah bilangan terkecil yang bisa dibagi oleh enam angka
pertama yaitu : 1, 2, 3, 4, 5, 6.
Angka 60 juga merupakan angka dengan faktor pembaginya banyak yaitu, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 10, 12, 15, 20, 30, 60.
Jadi dengan mudah kita mendapatkan hasil bagi bilangan 60 misalnya, 1/2 jam = 30 menit, 1/3 jam = 20 menit, 1/4 jam = 15 menit, dst. Bayangkan saja jika 1 jam = 100 menit, 1/3 jam = 33,333 menit, ribeeet...

1 Menit = 60 Detik
1 Jam = 60 Menit = 3.600 Detik
1 Hari = 24 Jam = 1.440 Menit = 86.400 Detik
1 Tahun = 365 Hari (366 Hari untuk tahun Kabisat) = 8.760 Jam = 525.600 Menit = 31.536.000 Detik

Sejarah Awal
Istilah second dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "second minute" yang berarti bagian terkecil dari satu jam. Definisi ini diratifikasi oleh General Conference on Weights and Measures ke-11 di tahun 1960. Referensi ke tahun 1900 bukan berarti ini adalah epoch dari hari matahari yang berisikan 86.400 detik, melainkan ini adalah epoch dari tahun tropis yang berisi 31.556.925,9747 detik dari waktu Ephemeris (Ephemeris Time).

Ephemeris Time (ET) telah didefinisikan sebagai ukuran waktu yang memberikan posisi obyek angkasa yang terlihat sesuai dengan teori gerakan dinamis Newton. Dengan dibuatnya jam atom, maka ditentukanlah penggunaan jam atom sebagai dasar pendefinisian dari detik, bukan lagi dengan putaran bumi.

Dari hasil kerja beberapa tahun, dua astronom di United States Naval Observatory dan dua astronom di National Physical Laboratory (Teddington, England) menentukan hubungan dari hyperfine transition frequency atom caesium dan detik ephemeris. Dengan menggunakan metode pengukuran common-view berdasarkan sinyal yang diterima dari stasiun radio WWV, mereka menentukan bahwa gerakan orbital bulan disekeliling bumi dapat menerka gerakan matahari dengan jelas dalam satuan waktu jam atom.

Ditahun 1967, General Conference on Weights and Measures mendefinisikan detik dari waktu atom dalam International System of Units sebagai durasi sepanjang 9.192.631.770 kali periode radiasi yang berkaitan dengan transisi dari dua tingkat hyperfine dalam keadaan Ground State (ketidak-adaan nol (0) medan magnet) dari atom cesium-133 pada suhu nol kelvin. Penjelasan mudahnya, paling umum 1 detik adalah 1/60 menit atau 1/3600 jam.

Wednesday, February 20, 2013

TAHAP-TAHAP ILMU (ANUGERAH ALLAH)


Sesungguhnya pencapaian ILMU ALLAH adalah lebih tinggi dan menjangkau jauh sehingga ianya tidak boleh diterima oleh daya pemikira manusia. Pencapaian teknologi zaman ini semata-mata berlandaskan kepada kajian dan kepintaran otak ikiran ke tahap ILMU QALAM. Ilmu Allah menjangkau lebih tinggi ke tahap ILMU GHAIB dan ILMU SYAHADAH.

ILMU QALAM boleh dikuasai oleh seluruh manusia Islam, Kafir, Kufur atau Murtad. tetapi melalui MENGENAL DIRI dan MENGENAL ALLAH dengan sebenar-benarnya , umat Islam boleh menguasai ilmu yang lebih tinggi yakni ILMU GHAIB dan ILMU SYAHADAH. Peluang terisimewa yang di kurniakan Allah kepada Islam inilah yang sebenarnya meletakkan tahap umat Islam kesuatu darjat yang paling tinggi. Kemuliaan yang teragung jika dibandingkan dengan manusia kafir dan kufur.

Sabda Rasulullah : "Bermula awal agama itu adalah dengan mengenal Allah." Oleh itu untuk mengetahui makrifat Allah, maka diberiNya ilmu kepada manusia melalui aqal dan iman, dengan satu harapan supaya manusia mengetahui akan hakikat sebenar tujuan zahirnya ke dunia ini, iaitu untuk berbakti kepada Nya dan untuk menyatakan dirinya sendiri pada zat, sifat, asma' dan afa'alNya. Sesungguhnya semua Ilmu yang ada pada manusia adalah ilmu Allah semata-mata, sedangkan pada hakikatnya manusia itu adalah kosong tidak bermaya. Manusia sebenarnya tidak berhak ke atas sesuatu atau dirinya, hanya Allah sahaja yang empunya.

ILMU QALAM, ILMU GHAIB

Berkaitan dengan Ilmu Qalam, Al-Quran dlm Surah Al Alaq ayat 3-5 menerangkan dan "Bacalah bahwa Tuhanmu Amat Pemurah yg mengajar kamu dgn (ilmu) kalam dan Tuhanmu mengajar kpd manusia apa-apa yg tidak diketahuinya."

Sedang mengenai ilmu ghaib dan ilmu syahadah diterangkan dlm Al Quran, Surah Al Hasyr ayat 22 yg bermaksud "Dialah Allah, yg tiada Tuhan kecuali Dia, Mengetahui yang (ilmu) ghaib dan (ilmu) syahadah. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

ILMU QALAM adalah suatu ilmu yg boleh dipelajari oleh manusia biasa bg tujuan utk memahami sesuatu di alam ini. Ilmu tersebut difahami dan diterima oleh pancaindera kita yg tujuh. Ilmu kalam diajar di sekolah secara formal atau inormal dlm masyarakat dan makhluk manusia dlm kehidupan sehari-hari. Contoh ilmu kalam ; ayat-ayat syifa & ruqyah pembinasa jin, ilmu kedoktoran, ilmu farmasi, ilmu ekonomi, ilmu hukum dll.

ILMU GHAIB adalah merupakan suatu ilmu yg dpt menerangkan sesuatu yg tidak dpt diterangkan oleh Ilmu Kalam. llmu Ghaib hanya dpt diajar sepenuhnya oleh guru ghaib(batin) dan tidak dpt diajarkan oleh guru zahir. Biasanya guru ghaib(batin) adalah terdiri dari wali-wali Allah, para Nabi dan Rasul-Rasul. Ilmu Ghaib biasanya hanya diajar dan diperoleh oleh orang2 tertentu shj iaitu orang2 yg dianugerahkan oleh Allah utk menerimanya atau kpd orang2 yg sedang menjalan jalan hakekat dan makrifat melalui jalan tasawuf atau sufi.

Tuesday, February 19, 2013

“Godfather” Mengontrol Istana? " Analisa "


Hubungan Istana dengan Mahfud MD memanas. Gara-garanya, Ketua MK itu menuding bahwa mafia narkoba telah menyusup ke Istana, mempengaruhi sampai Presiden SBY memberi grasi kepada Meirika Franola alias Ola (42) terpidana mati kasus narkoba. Dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Ternyata, Ola adalah seorang gembong narkoba kelas kakap. Bukan sekadar kurir, yang menjadi salah satu dasar pertimbangan utama Presiden SBY menyetujui grasi yang dimohonkan oleh pihak Ola itu.
Kepastian tersebut diperoleh setelah Ola kembali diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba. Ola diduga menjadi otak penyelundupan sabu seberat 775 gram dari India melalui Bandara Huseinsastranegara, Bandung, berdasarkan temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 4 Oktober 2012..
Apakah hanya berdasarkan temuan itukah, maka Ola diduga sebagai salah satu otak atau gembong narkoba di Indonesia? Tidak, tidak hanya itu. Ada fakta yang jauh lebih besar dan kuat daripada kasus baru tersebut. Fakta yang sejak awal seharusnya sudah diketahui,  membuat keputusan pemberian grasi oleh Presiden SBY itu memang sangat janggal.
Fakta itu akan saya sebutkan di bagian bawah artikel ini..
Kenapa Mahfud MD Bicara Langsung ke Media?
Faktor itulah juga yang antara lain membuat Mahfud MD yakin dengan kebenaran tuduhannya tersebut. Tentu saja, sosok sekaliber Mahfud MD itu tidak akan bicara sembarangan, kalau tidak didukung oleh bukti-bukti atau fakta-fakta yang kuat seperti itu.
Tapi, kenapa Mahfud MD bicaranya langsung ke media, tidak diam-diam memberitahu informasi tersebut ke pihak Istana, atau langsung ke SBY? Seperi yang dikatakan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi yang sangat gusar dengan tuduhan Mahfud MD tersebut?
“Seorang ahli hukum, profesor, masalah dugaan itu diumbar ke pers. Kalau ada beritahulah baik-baik. Kalau ada (terlibat mafia) siapa kira-kira, kita tindak. Saya pun kalau salah siap diambil tindakan kok,” kata Sudi (Kompas.com).
Saya menduga, itu karena Mahfud mempertimbangkan bicara ke media jauh lebih efektif daripada diam-diam lapor ke Istana. Apalagi ‘kan katanya, di Istana itu telah disusupi mafia narkoba, siapa saja mereka? Belum tahu. Kalau Mahfud bicara langsung ke Istana bisa-bisa malah lapornya ke mafia itu sendiri? Bicara langsung ke SBY? Selain harus melalui tahapan birokrasi yang relatif lama, kecil kemungkinan SBY akan percaya, atau meresponnya dengan cara yang seperti yang diharapkan. Misalnya, segera melakukan memerintahkan penyelidikan internal tentang kebenaran laporan tersebut.
Lihat saja, meskipun Mahfud sudah menyampaikan secara sedemikian terbuka tentang kemungkinan telah menyusupnya mafia narkoba sampai ke Istana, apa reaksi Presiden SBY? Lamban plus bergaya melankolis. Masih sempat-sempatnya melakukan pencitraan diri lagi. Kata SBY dengan “gagahnya,” bahwa meskipun ternyata pemberian grasinya keliru, dia tidak akan menyalahkan siapa-siapa. “Saya tidak akan menyalahkan Mahkmah Agung, tidak akan menyalahkan menteri, tetapi karena sayalah yang memberi grasi itu. Maka kesalahan itu, sepenunya sayalah yang bertanggung jawab,” katanya seperti pimpinan yang bijak.
Pimpinan yang bijaksana? Justru sebaliknya. SBY bilang, tidak akan menyalahkan siapapun yang telah memberi pertimbangan kepadanya sampai dia mengabulkan permohonan grasi oleh Ola tersebut. Biarlah dia yang mengambil-alih semua tanggung jawab itu. Padahal jelas-jelas siapapun yang memberi pertimbangan tersebut telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Apakah dia atau mereka yang telah melakukan kesalahan yang sangat fatal itu tidak diberi sanksi apapun oleh Presiden? Lalu, apa bentuk kongkrit dari pernyataan bahwa dialah yang bertanggung jawab penuh atas pemberian grasi yang salah orang itu?
Kenapa SBY malah “mengambil-alih tanggung jawab” tersebut? Bukankah malah ini bisa ditafsirkan bahwa SBY melindungi pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab itu? Kalau mereka itu, ternyata bagian dari mafia narkoba, berarti SBY justru melindungi mafia narkoba yang telah menyusup ke Istana?
Perkembangan terakhir (Senin, 12/11/2012), pihak Istana melalui Sudi Silalahi malah mengatakan bahwa Presiden SBY tidak akan melakukan penyelidikan internal terkait pemberian grasi untuk terpidana kasus narkoba Meirika Dranola alias Ola itu. Pihak Istana, katanya,  beranggapan bahwa grasi itu tidak bermasalah secara hukum, baik dari usulan hinggapengambilankeputusannya (Kompas.com).
Di Balik Grasi Itu Memang Penuh Janggal
Sikap ini tentu saja sangat berbahaya bagi keamanan negara, seandai saja apa yang dikatakan oleh Mahfud itu benar, tetapi Presiden bukannya mengambil langkah-langkah segera dan tegas untuk melakukan investigasi internal secara intensif, tetapi malah sepertinya mengendapkannya, Indonesia yang sudah lemah karena terlalu banyak koruptornya itu berpotensi untuk menjadi seperti Kolumbia atau Mexico. Dua negara yang sudah di bawah cekraman mafia-mafia besar narkotik. Hakim, polisi, tentara yang berani melawan, mereka bunuh tanpa ragu. Presidennya pun tak berdaya menghadapi mereka. Entah sudah berapa banyak hakim, polisi, dan tentara mati di tangan mereka. Belum lagi begitu sering terjadinya perang terbuka antarmafia narkotik di kedua negara tersebut.
Bisa-bisa kalau Indonesia sudah menjadi seperti itu, Mahfud MD akan menjadi sasaran pertama dan utama mereka!
Reaktifnya pihak Istana atas pernyataan Mahfud MD itu, tetapi tidak ditindaklanjuti dengan upaya-upaya untuk memperjelas masalah di balik pemberian grasi tersebut justru semakin membuat orang curiga bahwa apa yang dikatakan Mahfud itu adalah benar.
Memang benar, di balik keputusan pemberian grasi oleh Presiden SBY itu banyak keganjilannya. Bukan soal obral grasi atau tidak, seperti yang kerap dilontarkan oleh Wamenhukham Denny Indrayana ketika membela atasannya itu.
Setiapkali diminta penjelasannya tentang grasi untuk terpidana narkoba, termasuk pada kasus Ola ini, Denny selalu saja melontarkan pernyataan favoritnya itu. Bahwa tidak benar, SBY obral grasi. SBY sangat selektif dan ketat soal itu. Buktinya 85 persen permohonan grasi ditolak Presiden. Kalau benar-benar selektif dan ketat kok bisa SBY memberi grasi yang salah kepada Ola?
Padahal yang dipersoalkan itu adalah pemberian grasi itu diberikan kepada orang-orang yang sangat tidak pantas menerimanya. Jadi, meskipun hanya satu atau dua orang yang diberikan grasi, padahal mereka sangat tidak pantas menerimanya, seperti Ola ini, maka SBY patut dikecam dan dikoreksi. Mana konsistensi pernyataan SBY sendiri bahwa dia akan berdiri paling depan dalam perang melawan narkoba? Bahwa narkoba adalah kejahatan yang harus diberantas tanpa toleransi karena merusak generasi muda bangsa?
Alasan kemanusiaan apa yang dijadikan landasan keputusan itu? Apakah demi alasan kemanusiaan kepada Ola, lalu SBY mengabaikan alasan kemanusaian yang menyangkut jutaan generasi muda bangsa yang akan dirusak oleh narkoba-narkoba itu?
Yang paling lucu dari pernyataan Denny Indrayana adalah malah menyalahkan Ola. “Ini grasi dibalas air tuba. Yang salah bukan yang memberi grasi, tapi yang membalas dengan air tuba,” katanya.
Pernyataan ini membuat Denny kelihatan menjadi orang yang lugu. Ya, jelas, dong, namanya saja penjahat kakap. Mana ada urusan dia dengan “air susu dibalas air tuba,” atau apa pun perumpamaannya. Apapun akan dia lakukan, bilaperlu membunuh SBY dan Denny Indrayana.
Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin dan Wakilnya Denny Indrayana, dan Jaksa Agung Basrief Arief berkali-kali mengatakan bahwa pemberian grasi oleh SBY kepada Ola itu tidak salah. Mereka siap bertanggung jawab sebagai pihak-pihak yang telah memberi pertimbangan tersebut. Katanya, pertimbangan tersebut telah dilakukan dengan sangat hati-hati dan cermat. Dengan kata lain, mereka mau bilang bahwa mereka itu kecolongan. Sudah cermat ternyata Ola lebih lihai daripada yang kelihatannya. Kelihatannya sebagai kurir saja, eh, tidak tahunya otak atau gembong narkotika.
Benarkah demikian?
Kita tidak tahu apa saja poin-poin pertimbangan yang telah diberikan kepada Presiden SBY, sehingga SBY mengabulkan permohonan grasi Ola tersebut, tetapi yang pasti adalah terdapat fakta-fakta yang tak terbantahkan yang membuat kita sangat heran, kalau fakta-fakta tersebut tidak masuk atau dimasukkan di dalam pertimbangan tersebut.
Jelas-jelas, mulai dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi sampai  Mahkamah Agung telah mengvonis/menetapkan Ola dengan hukuman mati, dasar pertimbangannya adalah karena pelaku adalah seorang gembong narkoba. Bukan sekadar kurir. Bahkan pada saat SBY menerima permohonan grasi dari pihak Ola, Mahkamah Agung sudah “mengingatkan” SBY dalam pertimbangannya bahwa tidak ada alasan apapun untuk mengabulkan permohonan grasi tersebut, karena Ola bukan sekadar seorang kurir. Tetapi adalah bagian dari jaringan utama narkoba di Indonesia. Kenapa pertimbangan Mahlamah Agung ini diabaikan?
Inilah Fakta Utama yang Paling Dramatisir bahwa Sejak Awal Ola Memang Gembong Narkotika (Ada “Godfather” Mengontrol Istana?)
Yang teramat sangat penting adalah kita harus melihat kembali bagaimana proses penangkapan terhadap Ola, 12 tahun yang lalu. Tepatnya, pada Rabu, 12 Januari 2000 di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Pada saat Ola ditangkap, benarkah posisi dia adalah kurir? Ternyata, tidak.  Pada waktu ditangkap posisi Ola adala koordinator yang memberangkatkan beberapa kurirnya dari Indonesia ke London, Inggris (dengan pesawat Cathay Pacific).
Di dalam pengembangan kasus kemudian, Ola sendiri mengaku, dan memang benar demikian, dia adalah istri gembong sindikat narkoba. Mouza Sulaiman Domala, warga negara Pantai Gading. Dalam pemeriksaan intensif oleh polisi, Ola kemudian membongkar sendri jaringan mafia narkoba orang-orang dari Afrika yang dipimpin oleh suaminya itu.
Berdasarkan informasi sangat penting dari Ola itu, sehari kemudian (13/01/2000) polisi melakukan penggebrakan di rumah yang sekaligus menjadi markas gembong mafia narkoba asal Afrika yang dipimpin oleh suaminya itu. Dalam penggebrakan itu terjadi aksi baku-tembak polisi dengan Mouza Sulaiman dan empat orang temannya. Kelima orang asal Afrika itu tewas tertembak. Di rumah itu polisi menemukan kokain seberat 1 kg.
Kisah penangkapan Ola, dan tewasnya Mouza, suaminya pernah diberitakan di media massa pada waktu itu. Salah satunya adalah Harian Republika,, yang dapat kita baca kembali arsipnya di bawah ini.
Setelah selesai kita membaca arsip berita ini, kelihatanlah bahwa memang sejak awal Ola sudah diketahui sebagai gembok narkoba. Di dalam pengakuannya kepada polisi pun, dia terus terang bilang bahwa dia ikut membantu suaminya mengkoordinasi jaringan narkoba di Indonesia.
Tidak diragukan lagi; sejak awal Ola memang adalah gembok narkoba!
Misterius! Kenapa, sampai di dalam pertimbangan pemberian grasi kepada SBY itu, Ola bisa berubah menjadi hanya kurir? Siapakah yang mengubah fakta-fakta tersebut? Kalau bukan jaringan mafia narkoba, seperti yang dikatakan Mahfud, lalu siapa? Kenapa bisa begitu?
Berikut adalah kisah penangkapan Ola, pada 12 Januari 2000 lalu. Sebuah kisah yang sangat mirip dengan adegan film-film aksi Hollywood. Silakan disimak (sumberRepublika.co.id).
Petugas polisi berlari-lari masuk ke Terminal Keberangkatan Luar Negeri Bandara Soekarno-Hatta. Mereka berpacu dengan waktu. Telat sedikit, pesawat yang membawa dua anggota sindikat narkoba internasional bakal terbang. Ini buruan kelas kakap. Di area check in penumpang, polisi beruntung menemukan Rina Andriani. Polisi tanpa basa basi menangkapnya. Sementara rekan Rina, Deni Setia Maharwan sudah telanjur masuk ke perut pesawat Cathay Pacific tujuan London, Inggris.
Tim lainnya bergerak cepat mengejar Deni. Mereka merangsek masuk ke kabin Cathay yang sudah penuh penumpang. Polisi meminta pesawat jangan lepas landas dulu. Polisi akhirnya menemukan Deni di tengah penumpang Cathay yang sudah duduk. Deni ditangkap berikut paket pakaian anak-anak yang ia jadikan pembungkus heroin dan kokain. Tahu berapa paketnya ketika itu? 1,6 kilogram (kg) heroin dan 15 kg kokain senilai total Rp 13,7 miliar!
Pengejaran belum selesai. Masih ada anggota sindikat yang lain berkeliaran di bandara. Di lobby bandara, polisi memborgol Meirika Franola (Ola) yang mengantar kepergian Rani dan Deni. Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya ketika itu, Kolonel Polisi Alex Bambang Riatmodjo, menangkap Ola. Anehnya, Ola mengatakan ia sudah bermimpi akan bertemu Alex. “Saya sering melihat bapak di TV. Feeling saya selalu mengatakan suatu saat saya akan berdampingan dengan bapak. Dan ternyata benar,” kata Ola saat ditangkap.
Dalam wawancara dengan Republika ketika itu, Alex menegaskan bahwa Rani, Deni, dan Ola adalah bagian kecil dari sindikat yang lebih besar. Rani dan Deni sebagia kurir. Sedangkan Ola adalah istri gembong sindikat narkoba itu, Mouza Sulaiman Domala, warga negara Pantai Gading. Dalam pemeriksaan, Ola membongkar jaringan sindikat yang dipimpin suaminya itu. Ola, perempuan asal Ciamis, sudah menikah satu setengah tahun dengan Mouza. Mereka memiliki dua anak.
Sindikat ini mendapat pasokan narkoba dari warga Peru bernama Jemmy alias Tomy. Rencananya, kokain dan heroin itu mereka bakal antar ke London. Ola membayar Deni dan Rani sebesar 3.000 dolar AS untuk membawa paket ke London. Dalam pemeriksaan, Ola bernyanyi tentang persembunyian sindikat narkobanya. Alamat rumah mereka ada di Jalan Pangeran Antasari No 74, Cipete, Jakarta Selatan.
Sindikat rupanya sudah setahun tinggal di sana. Polisi menggerebek rumah itu sehari setelah menangkap Ola. Di dalam rumah ada Mouza Sulaiman dan keempat temannya. Baku tembak tidak terhindarkan. Kelima warga Afrika itu pun tewas. Dari rumah itu polisi menyita kokain seberat 1 kg.
Lalu, apa peran Ola? Alex mengungkapkan, di dalam pemeriksaan Ola secara tegas mengakui ikut mengorganisasi perdagangan narkoba yang dipimpin suaminya. Bahkan, Ola mengakui, Mouza adalah satu pucuk pimpinan yang mengelola perdagangan narkoba di kalangan warga Afrika di Indonesia.
Dari dua penggerebekan itu, akhir bulan Januari 2000, polisi kembali melabrak satu markas sindikat narkoba Afrika. Kali ini di Jalan Garuda No 62, Kemayoran, Jakarta Pusat. Lagi-lagi polisi baku tembak dengan lima bandar heroin Afrika. Kelimanya berhasil dilumpuhkan. Dari rumah itu, polisi menemukan 3,469 heroin di dalam sofa, pistol FN, celurit, dan uang tunai serta perhiasan emas.
*
Sangat aneh, kalau para pemberi pertimbangan itu tidak tahu tentang fakta ini. Kecuali, mereka memang sebenarnya tidak layak menjabat di posisinya masing-masing karena memang kemampuannya di bawah standar. Lebih aneh lagi, kalau SBY malah tidak merasa perlu melakukan tindakan apa-apa terhadap mereka.
Jangan-jangan memang benar apa yang dikatakan Mahfud, bahwa Istana memang sudah dikontrol mafia narkoba? Ataukah, ada “Godfather” yang kini mengontrol istana? Sangat mengerikan, kalau, ya.
Menurut Anda? ***

http://hukum.kompasiana.com

Interaksi Dinamika Nasional Dan Kepentingan Global


Oleh M. Sir Hasanal Kholqi pada 16 Februari 2013 pukul :24 ·

5. Interaksi dinamika nasional dan kepentingan global

Sepanjang pemerintahannya sejak 2004 dan periode kedua 2009 hingga buku ini di tulis, SBY prsktis tidak banyak berbuat untuk kepentingan bangsa dan negaranya karena waktu, tenaga, dan pikiranya lebih banyak di abdikan untuk kepentingan global. Selain harus menuruti perintah majikannya yakni neolib internasional, pada periode ke dua masa jabatan kepresidenya praktis SBY sudah menjadi ”LAME DUCK” atau “BEBEK LUMPUH” yang sudah tidak produktif lagi. Menurut majalah ekonomist: “Barely half way through his second term, Mr. Yudhoyono alredy looks like a lame duck”.

5.1 Perang 2014 sudah di mulai.

Mencermati dinamika nasional yang berkembang dan pengaruh serta kepentingan global, saat ini perang 2014 sudah di mulai. Dalam peperangan yang penuh dengan “TRICK” dan “INTRICK” ternyata justru terjadi di kalangan istana. Dapur cikeas panik pasalnya siapa lagi kalau bukan ulah Meneg BUMN Dahlan iskan. Karir politik Dahlan Iskan telah di design dari dapur Cikeas oleh Hartati Murdaya, Budi sStiawan (Mantan Dirjen Agama Budha dan Ani Yudhoyono sendiri. Awalnya Dahlan Iskan di tugasi untuk membersihkan PLN dari “KEROYOKAN” supplier-supplier yang mengatas namakan Partai Demokrat sehingga bisnis kelompok Murdaya menjadi semakin kecil. Tugas tersebut oleh dahlan iskan telah berhasil di laksanakan dengan baik, sehingga akhirnya lewt jalan Tol Cikeas dapat melenggang dengan tenang untuk di promosikan menjadi Meneg BUMN. Namun bagai di sambar petir di siang hari bolong, ketika menjabat Meneg BUMN sekonyong-konyong di temukan bukti-bukti yang menunjukka bahwa Dahlan Iskan secara tenang-tenangan main mata dengan Jusuf Kalla (JK) yakni sahabat lamanya yang pernah memback-up berkembangnya koran RADAR di hampir setiap kota untuk menekan TRIBUN-nya KOMPAS.
Banyak kalangan membaca langkah Dahla Iskan meniru cara Abu Rizal Bakrie dalam meniti karir politiknya yakni, pertama “MBALELO” kepada konglomerat yang menjadikan dan menolongnya masuk kedalam arena politik, kemudian selanjutnya membangun pencitraan dirinya supaya di perhitungkan di pelataran Politik Nasional. Banyak hal Dahlan Iskan ternyata lebih piawai di bandingkan Abu Rizal Bakrie dalam membangun pencitraan karna ibarat media Dahlan Iskan tahu bagaimana selera pembaca. Namun karena keduanya sama-sama berangkat dari bisnis yang kurang bersih dalam memperkaya diri, sehingga keduanya mudah di kendalikan dengan “REMOTE CONTROL”. Bagi kacamata inteligen, ini adalah justru sangat memudahkan dalam mendeteksi pencitraan yang di bangun dan respon kepercayaan masyarakat kepada mereka. Fenomena Dahlan Iskan yang “NOTHING TO LOOSE” dan penuh kepasrahan karena hampir mati sewaktu operasi cangkok hati di China, patut di cermati dan di baca secara seksama bagaimana dia memainkan perannya, dagangan politiknya dan kemana arahnya akan di persembahkan atau hanya sekedar bermain untuk jualan kepada yang jelas nanti sebagai potensial pemenang.

5.2 Ada apa dengan SBY dan Istrinya?

Apa benar keduanya sudah tidak sejalan dalam setrategi 2014 sekaligus strategi penyelamatan kroni-kroninya pasca SBY berkuasa. Bagaimana ceritanya bahwa Jusuf Kalla tiba-tiba menjadi berperan penting.
Alkisah, adalah kira-kira pada pertengahan tahun 2011 Wapres Boediono bertemu dengan salah satu tokoh keagamaan. Dalam perbincangan kurang lebih dua jam lamanya, tokoh agama tersebut menjelaskan kondisi NKRI yang sudah carut marut mulai dari sistem kenegaraan hasil amandemen sampai politik mafia di segala bidang akibat dari kepemimpinan negara yang lemah. Kemudian Boediono bertanya kepada tokoh agama tersebut, apa yang bisa diperbuat ? dalam pertemuan tersebut, Boediono disarankan untuk mengundurkan diri dari jabatan Wapres bersama jajaran menteri profesional non-partai agar selamat bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Kemudian, niat Boediono mengundurkan diri berhasil dicegah atau digagalkan oleh JK dan secara diam-diam telah main mata dengan Sri Mulyani Indrawarti (SMI) yang sudah mendapat back-up dari Washington. JK mengatakan: “Untuk apa Pak Boediono mengundurkan diri ? nanti yang diuntungkan Djoko Suyanto, akhirnya tentara lagi yang memimpin kalau SBY lengser di tengah jalan seperti Pak Harto. Sementara Bu Sri Mulyani sudah sepakat bergabung dengan saya. Saya kan sudah tua, jadi tugas saya menyiapkan yang muda seperti Bu Sri Mulyani ini. Peranan Amerika kan sudah terbukti sebagaimana 2004 dan 2009.
Dengan pandangan dan saran tersebut, kontan Boediono sepakat dengan JK untuk mengurungkan niatnya untuk mengundurkan diri.
Mengapa JK bertekad untuk menghalau atau mencegah Djoko Suyanto dengan melempar isu bahwa Djoko mau melengserkan SBY di tengah jalan, kepada Bodiono...???
Inilah dagangan yang paling ampuh pasalnya SBY mau bertahan sampai 2014, sementara Cikeas dan kroni-kroninya di bawah kendali Ani Yudhoyono yakin 100% bahwa pergantian kekuasaan aman dan terkendali dan harus jatuh ke tangan Cikeas lagi. Cara yang paling aman adalah membuat “kudeta terkendali” dengan Djoko Suyanto merapat Akbar Tandjung untuk sekaligus membantu memecah kekuatan Golkar. Skenario ini sekaligus menjajagi pasangan Djoko Suyanto dengan Agung Laksono di peperangan 2014 nanti. Dengan skenario itu pula Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat berani sesumbar “siap digantung” di Monas.
Di sinilah SBY berada di persimpangan jalan, mau “soft landing” macam apa...??? bertahan hingga 2014 atau kudeta terkendali skenario dapur Cikeas. Kondisi ini JK mengetahui secara persis, maka dagangannya “aman hingga 2014” langsung dibeli kontan oleh SBY. Dahlan Iskan penciumannya cukup tajam dan langsung merapat ke kroni lamanya, yakni JK. Prinsipnya sama-sama pedagang, yang penting main dulu sambil membaca situasi dan kondisi. Soal jualan kemana dipikir belakangan, permainannya bisa zig-zag tergantung kekuatan sesaat seperti halnya dalam dunia persilatan. Itulah prinsip pedagang tidak ada menang-kalah, yang ada untung, artinya ikut siapa-pun yang akan keluar jadi pemenangnya.

5.3 Kartu-kartu yang Dimainkan.

Dalam sebuah ungkapan Jenderal William J. Donovan, kepala Dinas Strategis Amerika di zaman presiden Roosevelt, dikatakan bahwa: intelijen harus bersifat global dan totaliter, dan seperti yang sudah ditulis di bagian depan tentang merekam jejak CIA di Indonesia, bahwa tangan kuat dibutuhkan di setiap ibu kota negara dari Damaskus sampai Jakarta agar kartu-kartu domino yang dimainkan Amerika tidak tumbang, maka perlu dikaji ulang dan dicermati apakah Washington akan memainkan satu kartu atau juga memainkan beberapa kartu cadangan yang lain. Tentunya, Amerika sangat berkepentingan siapa yang akan menjadi pemenang di 2014 nanti. Jika Pemilu dan Pilpres 2014 masih ada, konon sebuah sumber mengatakan bahwa Jenderal Polisi Sutanto dipersiapkan sebagai salah satu kandidat yang juga sudah dipersiapkan. Sekarang sedang “cooling down” dulu setelah berhenti dari Badan Intelijen Negara, sambil mencermati dan mengamati dinamika politik yang berkembang.
Skenario yang dibawa Sutanto konon justru bertolak belakang dengan JK karena misi Sutanto adalah bagaimana membesarkan Sri Mulyani Indrawati (SMI) untuk kemudian dijadikan tumbal.
Sedangkan di sisi lain, ada mantan guru besar Kasal Laksamana Slament Subianto yang sudah diundang ke Moskow nampaknya belum banyak melakukan manuver selain bergerak di dalam Majelis Kebangsaan Panji Nusantara.

5.4 Bocornya Rapat Rahasia Presiden.

Tanggal 15 Mei 2012 malam, Presiden SBY mengadakan rapat rahasia di istana kepresidenan khusus membahas masalah direksi pertamina dan korupsi petral singapor sebagai anak perusahaan Pertamina. Dalam rapat rahasia dan sangat terbatas tersebut, presiden hanya mengundang: Mensesneg, Menteri ESDM, Meneg BUMN, Menteri Perdagangan dan Dirut Pertamina. Ternyata rapat penting yang sangat rahasia tersebut “bocor” dan tidak sampai 24 jam materi rapat presiden dengan para menteri terbatas bisa diketahui publik lewat sosial media twitter. Presiden marah, istana heboh dan publik juga heboh, media ramai mempersoalkan rapat yang begitu penting dan rahasia bisa bocor lewat twitter.
Kenapa sampai bocor, apakah istana sudah tidak steril lagi ? Presiden pantas untuk galau dan marah. Persoalannya bukan hanya marah-marah, tetapi siapa dan apa motif membocorkan rapat rahasia top eksekutif negeri ini. Jika istana sudah tidak steril lagi, alangkah berbahayanya keamanan negeri ini dan apa jadinya jika rapat-rapat kabinet serta informasi rahasia istana bisa bocor dengan mudahnya terlepas dari siapa yang membocorkan apakah salah satu diantara mereka peserta rapat yang hadir atau ada penyadapan, tapi yang pasti SBY sangat gusar dengan kebocoran rahasia negara ini karena sudah mencoreng mukanya secara politis, terkait dengan kewibawaan istana dan keamanan negara. Dapat dipastikan ada “hidden agenda” di balik kebocoran rapat rahasia tersebut kepada publik, karena sebelumnya Meneg BUMN telah memecat Umar Said sebagai Komisaris Utama Pertamina yang selama ini menjadi tangan dan mata telinga Presiden di Pertamina. Begitu pula dengan usulan perombakan Direksi Pertamina yang terkait dengan jaringan mafia minyak untuk pengadaan dan pembelian BBM dalam negeri.
Inilah hasil Reformasi yang sangat liberalistik dimana “ruang privasi” Presidenpun sudah menjadi “ruang publik”, sehingga akhirnya rezim Reformasi yang sekarang berkuasa sedang menuai badai.

5.5 Dapur Cikeas Mulai Berantakan.

Menjelang habis masa kepresidenan SBY apakah sampai 2014 atau terhenti di tengah jalan karrena situasi dan dinamika yang berkembang, maka SBY mencoba berusaha membangun aliansi dengan kelompok tertentu baik di dalam maupun di luar negeri. Aliansi yang sudah dibangun dengan luar negeri adalah tokoh-tokoh negara-negara G20 terutama dengan Washington, sedangkan di dalam negeri selain merapat lagi ke JK yang masih memiliki pengaruh politik, SBY juga mendekati Prabowo Subianto dan PDIP. Sayangnya aliansi yang dibangun bukan untuk kepentingan nasional, tapi untuk menyelamatkan diri dan keluarganya pasca masa kepresidenan habis, jangan sampai nasibnya seperti Ferdinand Marcos, mantan Presiden Philipina yang mati di pengasingan karena diusir oleh gerakan “people power”.
Oleh karena itu aliansi yang dibangun adalah guna mencari selamat untuk mengantarkannya sampai 2014 atau jika harus berhenti di tengah jalan, maka rezim berikutnya tidak sampai membongkar dan mempermaslahkan semua kebobrokan, kecurangan dan ketidakberesan yang telah dilakukan selama berkuasa bersama kroni-kroninya.
Dalam day to day politik itulah sebenarnya yang dilakukan oleh Djoko Suyanto kenapa merapat ke kubu Akbar Tandjung adalah untuk mengimbangi kekuatan Aburizal Bakrie sekaligus memecah Golkar dari dalam. Di lain pihak ada kelompok “petualang politik” yang menghembuskan isu dan menghendaki agar Ani Yudhoyono mencalonkan diri menjadi Capres 2014. Persoalannya adalah “dapur Cikeas mulai berantakan”. Antara Hartati Murdaya dengan kroni-kroni lainnya saling berbeda motif dan tujuannya apalagi para petualang atau oportunis sebagian besar terdiri dari “kutu loncat”. Selama ini bukannya membangun jaringan aliansi strategis melainkan hanya menjadi beban dengan “mendompleng kekuasaan dapur Cikeas” untuk menekan ke sana kemari demi keuntungan dan kepentingan pribadi masing-masing.
Memang ironis, SBY yang tadinya disanjung dan dipuja seperti dewa, sekarang sudah mulai ditinggalkan kroni-kroninya sebagai hukum karma karena menjelang dan selama berkuasa SBY juga telah banyak meninggalkan, melupakan bahkan mencampakkan teman-teman seperjuangan. Yahya Ombara dalam bukunya berjudul: “Presiden Flamboyan SBY” Yang Saya Kenal – 2007, halaman 485 – 487 adalah memberikan pembenaran bahwa SBY hanya menyenangkan sebagian kecil pendukungnya dan pengikutnya tapi dia membiarkan begitu saja sebagian besar yang lain. Fenomena tersebut seperti berkorelasi dengan sikapnya yang acuh tak acuh terhadap segala ikatan koalisi, ikatan pendukung, ikatan primordial dan lain sebagainya, sejak menjadi presiden. SBY memang siap untuk tidak populis, tepatnya tidak populis di dalam negeri tetapi popular di luar negeri. Contohnya menaikkan harga BBM, meskipun rakyat tercekik tetapi namanya justru popular di internasional. Masalah GAM dia selesaikan melalui kesepakatan damai di Helsinki, sementara dia tidak peduli dengan aspirasi dalam negeri yang menyikapi MOU tersebut. SBY selalu muncul seakan-akan bukan karena kemauannya melainkan oleh adanya sejumlah fakta dan fenomena serta pihak yang membutuhkan, hal ini memang merupakan bagian dari pencitraan yang dibangun dengan kemunafikan dan kebohongan. Dengan sikap sombongnya pernah mengatakan bahwa “dirinya menjadi besar bukan karena orang lain, tapi karena dirinya sendiri” sehingga pada akhirnya lagu yang biasa dinyanyikan yakni KU KAN SAMPAI DI SANA diganti dengan KU SENDIRI LAGI-----------------------

Dikutip Dari Buku:
"Reformasi Gagal; Selamatkan NKRI" oleh Wisnu HKP Notonagoro, Penerbit: Indonesia Press, Diterbitkan di Jakarta, pada Agustus 2012, halaman 166-178.
Interaksi Dinamika Nasional Dan Kepentingan Global

Oleh M. Sir Hasanal Kholqi pada 16 Februari 2013 pukul :24 ·

5. Interaksi dinamika nasional dan kepentingan global

Sepanjang pemerintahannya sejak 2004 dan periode kedua 2009 hingga buku ini di tulis, SBY prsktis tidak banyak berbuat untuk kepentingan bangsa dan negaranya karena waktu, tenaga, dan pikiranya lebih banyak di abdikan untuk kepentingan global. Selain harus menuruti perintah majikannya yakni neolib internasional, pada periode ke dua masa jabatan kepresidenya praktis SBY sudah menjadi ”LAME DUCK” atau “BEBEK LUMPUH” yang sudah tidak produktif lagi. Menurut majalah ekonomist: “Barely half way through his second term, Mr. Yudhoyono alredy looks like a lame duck”.

5.1 Perang 2014 sudah di mulai.

Mencermati dinamika nasional yang berkembang dan pengaruh serta kepentingan global, saat ini perang 2014 sudah di mulai. Dalam peperangan yang penuh dengan “TRICK” dan “INTRICK” ternyata justru terjadi di kalangan istana. Dapur cikeas panik pasalnya siapa lagi kalau bukan ulah Meneg BUMN Dahlan iskan. Karir politik Dahlan Iskan telah di design dari dapur Cikeas oleh Hartati Murdaya, Budi sStiawan (Mantan Dirjen Agama Budha dan Ani Yudhoyono sendiri. Awalnya Dahlan Iskan di tugasi untuk membersihkan PLN dari “KEROYOKAN” supplier-supplier yang mengatas namakan Partai Demokrat sehingga bisnis kelompok Murdaya menjadi semakin kecil. Tugas tersebut oleh dahlan iskan telah berhasil di laksanakan dengan baik, sehingga akhirnya lewt jalan Tol Cikeas dapat melenggang dengan tenang untuk di promosikan menjadi Meneg BUMN. Namun bagai di sambar petir di siang hari bolong, ketika menjabat Meneg BUMN sekonyong-konyong di temukan bukti-bukti yang menunjukka bahwa Dahlan Iskan secara tenang-tenangan main mata dengan Jusuf Kalla (JK) yakni sahabat lamanya yang pernah memback-up berkembangnya koran RADAR di hampir setiap kota untuk menekan TRIBUN-nya KOMPAS.
Banyak kalangan membaca langkah Dahla Iskan meniru cara Abu Rizal Bakrie dalam meniti karir politiknya yakni, pertama “MBALELO” kepada konglomerat yang menjadikan dan menolongnya masuk kedalam arena politik, kemudian selanjutnya membangun pencitraan dirinya supaya di perhitungkan di pelataran Politik Nasional. Banyak hal Dahlan Iskan ternyata lebih piawai di bandingkan Abu Rizal Bakrie dalam membangun pencitraan karna ibarat media Dahlan Iskan tahu bagaimana selera pembaca. Namun karena keduanya sama-sama berangkat dari bisnis yang kurang bersih dalam memperkaya diri, sehingga keduanya mudah di kendalikan dengan “REMOTE CONTROL”. Bagi kacamata inteligen, ini adalah justru sangat memudahkan dalam mendeteksi pencitraan yang di bangun dan respon kepercayaan masyarakat kepada mereka. Fenomena Dahlan Iskan yang “NOTHING TO LOOSE” dan penuh kepasrahan karena hampir mati sewaktu operasi cangkok hati di China, patut di cermati dan di baca secara seksama bagaimana dia memainkan perannya, dagangan politiknya dan kemana arahnya akan di persembahkan atau hanya sekedar bermain untuk jualan kepada yang jelas nanti sebagai potensial pemenang.

5.2 Ada apa dengan SBY dan Istrinya?

Apa benar keduanya sudah tidak sejalan dalam setrategi 2014 sekaligus strategi penyelamatan kroni-kroninya pasca SBY berkuasa. Bagaimana ceritanya bahwa Jusuf Kalla tiba-tiba menjadi berperan penting.
Alkisah, adalah kira-kira pada pertengahan tahun 2011 Wapres Boediono bertemu dengan salah satu tokoh keagamaan. Dalam perbincangan kurang lebih dua jam lamanya, tokoh agama tersebut menjelaskan kondisi NKRI yang sudah carut marut mulai dari sistem kenegaraan hasil amandemen sampai politik mafia di segala bidang akibat dari kepemimpinan negara yang lemah. Kemudian Boediono bertanya kepada tokoh agama tersebut, apa yang bisa diperbuat ? dalam pertemuan tersebut, Boediono disarankan untuk mengundurkan diri dari jabatan Wapres bersama jajaran menteri profesional non-partai agar selamat bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Kemudian, niat Boediono mengundurkan diri berhasil dicegah atau digagalkan oleh JK dan secara diam-diam telah main mata dengan Sri Mulyani Indrawarti (SMI) yang sudah mendapat back-up dari Washington. JK mengatakan: “Untuk apa Pak Boediono mengundurkan diri ? nanti yang diuntungkan Djoko Suyanto, akhirnya tentara lagi yang memimpin kalau SBY lengser di tengah jalan seperti Pak Harto. Sementara Bu Sri Mulyani sudah sepakat bergabung dengan saya. Saya kan sudah tua, jadi tugas saya menyiapkan yang muda seperti Bu Sri Mulyani ini. Peranan Amerika kan sudah terbukti sebagaimana 2004 dan 2009.
Dengan pandangan dan saran tersebut, kontan Boediono sepakat dengan JK untuk mengurungkan niatnya untuk mengundurkan diri.
Mengapa JK bertekad untuk menghalau atau mencegah Djoko Suyanto dengan melempar isu bahwa Djoko mau melengserkan SBY di tengah jalan, kepada Bodiono...???
Inilah dagangan yang paling ampuh pasalnya SBY mau bertahan sampai 2014, sementara Cikeas dan kroni-kroninya di bawah kendali Ani Yudhoyono yakin 100% bahwa pergantian kekuasaan aman dan terkendali dan harus jatuh ke tangan Cikeas lagi. Cara yang paling aman adalah membuat “kudeta terkendali” dengan Djoko Suyanto merapat Akbar Tandjung untuk sekaligus membantu memecah kekuatan Golkar. Skenario ini sekaligus menjajagi pasangan Djoko Suyanto dengan Agung Laksono di peperangan 2014 nanti. Dengan skenario itu pula Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat berani sesumbar “siap digantung” di Monas.
Di sinilah SBY berada di persimpangan jalan, mau “soft landing” macam apa...??? bertahan hingga 2014 atau kudeta terkendali skenario dapur Cikeas. Kondisi ini JK mengetahui secara persis, maka dagangannya “aman hingga 2014” langsung dibeli kontan oleh SBY. Dahlan Iskan penciumannya cukup tajam dan langsung merapat ke kroni lamanya, yakni JK. Prinsipnya sama-sama pedagang, yang penting main dulu sambil membaca situasi dan kondisi. Soal jualan kemana dipikir belakangan, permainannya bisa zig-zag tergantung kekuatan sesaat seperti halnya dalam dunia persilatan. Itulah prinsip pedagang tidak ada menang-kalah, yang ada untung, artinya ikut siapa-pun yang akan keluar jadi pemenangnya.

5.3 Kartu-kartu yang Dimainkan.

Dalam sebuah ungkapan Jenderal William J. Donovan, kepala Dinas Strategis Amerika di zaman presiden Roosevelt, dikatakan bahwa: intelijen harus bersifat global dan totaliter, dan seperti yang sudah ditulis di bagian depan tentang merekam jejak CIA di Indonesia, bahwa tangan kuat dibutuhkan di setiap ibu kota negara dari Damaskus sampai Jakarta agar kartu-kartu domino yang dimainkan Amerika tidak tumbang, maka perlu dikaji ulang dan dicermati apakah Washington akan memainkan satu kartu atau juga memainkan beberapa kartu cadangan yang lain. Tentunya, Amerika sangat berkepentingan siapa yang akan menjadi pemenang di 2014 nanti. Jika Pemilu dan Pilpres 2014 masih ada, konon sebuah sumber mengatakan bahwa Jenderal Polisi Sutanto dipersiapkan sebagai salah satu kandidat yang juga sudah dipersiapkan. Sekarang sedang “cooling down” dulu setelah berhenti dari Badan Intelijen Negara, sambil mencermati dan mengamati dinamika politik yang berkembang.
Skenario yang dibawa Sutanto konon justru bertolak belakang dengan JK karena misi Sutanto adalah bagaimana membesarkan Sri Mulyani Indrawati (SMI) untuk kemudian dijadikan tumbal.
Sedangkan di sisi lain, ada mantan guru besar Kasal Laksamana Slament Subianto yang sudah diundang ke Moskow nampaknya belum banyak melakukan manuver selain bergerak di dalam Majelis Kebangsaan Panji Nusantara.

5.4 Bocornya Rapat Rahasia Presiden.

Tanggal 15 Mei 2012 malam, Presiden SBY mengadakan rapat rahasia di istana kepresidenan khusus membahas masalah direksi pertamina dan korupsi petral singapor sebagai anak perusahaan Pertamina. Dalam rapat rahasia dan sangat terbatas tersebut, presiden hanya mengundang: Mensesneg, Menteri ESDM, Meneg BUMN, Menteri Perdagangan dan Dirut Pertamina. Ternyata rapat penting yang sangat rahasia tersebut “bocor” dan tidak sampai 24 jam materi rapat presiden dengan para menteri terbatas bisa diketahui publik lewat sosial media twitter. Presiden marah, istana heboh dan publik juga heboh, media ramai mempersoalkan rapat yang begitu penting dan rahasia bisa bocor lewat twitter.
Kenapa sampai bocor, apakah istana sudah tidak steril lagi ? Presiden pantas untuk galau dan marah. Persoalannya bukan hanya marah-marah, tetapi siapa dan apa motif membocorkan rapat rahasia top eksekutif negeri ini. Jika istana sudah tidak steril lagi, alangkah berbahayanya keamanan negeri ini dan apa jadinya jika rapat-rapat kabinet serta informasi rahasia istana bisa bocor dengan mudahnya terlepas dari siapa yang membocorkan apakah salah satu diantara mereka peserta rapat yang hadir atau ada penyadapan, tapi yang pasti SBY sangat gusar dengan kebocoran rahasia negara ini karena sudah mencoreng mukanya secara politis, terkait dengan kewibawaan istana dan keamanan negara. Dapat dipastikan ada “hidden agenda” di balik kebocoran rapat rahasia tersebut kepada publik, karena sebelumnya Meneg BUMN telah memecat Umar Said sebagai Komisaris Utama Pertamina yang selama ini menjadi tangan dan mata telinga Presiden di Pertamina. Begitu pula dengan usulan perombakan Direksi Pertamina yang terkait dengan jaringan mafia minyak untuk pengadaan dan pembelian BBM dalam negeri.
Inilah hasil Reformasi yang sangat liberalistik dimana “ruang privasi” Presidenpun sudah menjadi “ruang publik”, sehingga akhirnya rezim Reformasi yang sekarang berkuasa sedang menuai badai.

5.5 Dapur Cikeas Mulai Berantakan.

Menjelang habis masa kepresidenan SBY apakah sampai 2014 atau terhenti di tengah jalan karrena situasi dan dinamika yang berkembang, maka SBY mencoba berusaha membangun aliansi dengan kelompok tertentu baik di dalam maupun di luar negeri. Aliansi yang sudah dibangun dengan luar negeri adalah tokoh-tokoh negara-negara G20 terutama dengan Washington, sedangkan di dalam negeri selain merapat lagi ke JK yang masih memiliki pengaruh politik, SBY juga mendekati Prabowo Subianto dan PDIP. Sayangnya aliansi yang dibangun bukan untuk kepentingan nasional, tapi untuk menyelamatkan diri dan keluarganya pasca masa kepresidenan habis, jangan sampai nasibnya seperti Ferdinand Marcos, mantan Presiden Philipina yang mati di pengasingan karena diusir oleh gerakan “people power”.
Oleh karena itu aliansi yang dibangun adalah guna mencari selamat untuk mengantarkannya sampai 2014 atau jika harus berhenti di tengah jalan, maka rezim berikutnya tidak sampai membongkar dan mempermaslahkan semua kebobrokan, kecurangan dan ketidakberesan yang telah dilakukan selama berkuasa bersama kroni-kroninya.
Dalam day to day politik itulah sebenarnya yang dilakukan oleh Djoko Suyanto kenapa merapat ke kubu Akbar Tandjung adalah untuk mengimbangi kekuatan Aburizal Bakrie sekaligus memecah Golkar dari dalam. Di lain pihak ada kelompok “petualang politik” yang menghembuskan isu dan menghendaki agar Ani Yudhoyono mencalonkan diri menjadi Capres 2014. Persoalannya adalah “dapur Cikeas mulai berantakan”. Antara Hartati Murdaya dengan kroni-kroni lainnya saling berbeda motif dan tujuannya apalagi para petualang atau oportunis sebagian besar terdiri dari “kutu loncat”. Selama ini bukannya membangun jaringan aliansi strategis melainkan hanya menjadi beban dengan “mendompleng kekuasaan dapur Cikeas” untuk menekan ke sana kemari demi keuntungan dan kepentingan pribadi masing-masing.
Memang ironis, SBY yang tadinya disanjung dan dipuja seperti dewa, sekarang sudah mulai ditinggalkan kroni-kroninya sebagai hukum karma karena menjelang dan selama berkuasa SBY juga telah banyak meninggalkan, melupakan bahkan mencampakkan teman-teman seperjuangan. Yahya Ombara dalam bukunya berjudul: “Presiden Flamboyan SBY” Yang Saya Kenal – 2007, halaman 485 – 487 adalah memberikan pembenaran bahwa SBY hanya menyenangkan sebagian kecil pendukungnya dan pengikutnya tapi dia membiarkan begitu saja sebagian besar yang lain. Fenomena tersebut seperti berkorelasi dengan sikapnya yang acuh tak acuh terhadap segala ikatan koalisi, ikatan pendukung, ikatan primordial dan lain sebagainya, sejak menjadi presiden. SBY memang siap untuk tidak populis, tepatnya tidak populis di dalam negeri tetapi popular di luar negeri. Contohnya menaikkan harga BBM, meskipun rakyat tercekik tetapi namanya justru popular di internasional. Masalah GAM dia selesaikan melalui kesepakatan damai di Helsinki, sementara dia tidak peduli dengan aspirasi dalam negeri yang menyikapi MOU tersebut. SBY selalu muncul seakan-akan bukan karena kemauannya melainkan oleh adanya sejumlah fakta dan fenomena serta pihak yang membutuhkan, hal ini memang merupakan bagian dari pencitraan yang dibangun dengan kemunafikan dan kebohongan. Dengan sikap sombongnya pernah mengatakan bahwa “dirinya menjadi besar bukan karena orang lain, tapi karena dirinya sendiri” sehingga pada akhirnya lagu yang biasa dinyanyikan yakni KU KAN SAMPAI DI SANA diganti dengan KU SENDIRI LAGI-----------------------

Dikutip Dari Buku:
"Reformasi Gagal; Selamatkan NKRI" oleh Wisnu HKP Notonagoro, Penerbit: Indonesia Press, Diterbitkan di Jakarta, pada Agustus 2012, halaman 166-178.

Biografi Singkat Syekh Siti Jenar


Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M di lingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban Larang waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yang multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dengan kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.

Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yang dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yang berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yang mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yang diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]…

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yang berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yang semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yang bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut ke atas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yang ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yang menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

Adapun Syekh Maulana ‘Isa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yang kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yang sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dengan sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.

Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yang sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yang saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yang diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dengan sepenuh hati, disertai dengan pendidikan otodidak bidang spiritual.

Nasab Syekh Siti Jenar Bersambung Sampai ke Rasulullah saw diakui oleh Rabithah Azmatkhan

Abdul Jalil Syeikh Siti Jenar bin

1. Datuk Shaleh bin

2. Sayyid Abdul Malik bin

3. Sayyid Syaikh Husain Jamaluddin atau Jumadil Qubro atau Jamaluddin Akbar Al-Khan (Gujarat, India) bin

4. Sayyid Ahmad Shah Jalal atau Ahmad Jalaludin Al-Khan bin

5. Sayyid Abdullah AzhmatKhan (India) bin

6. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir AzhmatKhan (Nasrabad) bin

7. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut, Yaman) bin

8. Muhammad Sohib Mirbath (lahir di Hadhramaut, Yaman dimakamkan di Oman) bin

9. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin

10. Sayyid Alawi Ats-Tsani bin

11. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin

12. Sayyid Alawi Awwal bin

13. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin

14. Ahmad al-Muhajir (Hadhramaut, Yaman ) bin

15. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi (Basrah, Iraq) bin

16. Sayyid Muhammad An-Naqib bin

17. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin

18. Sayyidina Ja’far As-Sodiq (Madinah, Saudi Arabia) bin

19. Sayyidina Muhammad Al Baqir bin

20. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin {menikah dengan (34.a) Fathimah binti (35.a) Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib, kakak Imam Hussain} bin

21. Al-Imam Sayyidina Hussain bin

(22.a) Imam Ali bin (23.a)Abu Tholib dan (22.b) Fatimah Az-Zahro binti (23.b) Muhammad SAW

(Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817),

"ASAL-USUL NAMA FAM AZMATKHAN"

Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Di antara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India. 
Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “Syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.
Adapun nasab Sayyid Abdul Malik adalah sebagai berikut: Abdul Malik bin Alawi (Ammu al-Faqih) bin Muhammd Shahib Mirbath bin Ali Khali' Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi (Asal usul marga Ba'alawi atau Al-Alawi) bin Abdullah/Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir Ilallah bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-'Uraidhi bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulillah saw.
Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar "Al-Muhajir Ilallah", karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda'wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berdakwah.
Berkatalah H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya “Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah”: “Sayyid Abdul Malik bin Alwi lahir di kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama’ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India ia bermukim di Nashr Abad. Ia mempunyai beberapa orang anak lelaki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan Abdullah bin Sayyid Abdul Malik, lahir di kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir di sebuah desa dekat Nashr Abad. Ia anak kedua dari Sayyid Abdul Malik.”
Nama putra Sayyid Abdul Malik adalah “Abdullah”, penulisan “Amir Khan” sebelum “Abdullah” adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmatkhan. Al-Amir adalah gelar untuk pejabat wilayah. Sedangkan Azmatkhan adalah marga beliau mengikuti gelar ayahanda.
Sebagian orang ada yang menulis “Abdullah Khan”, mungkin ia hanya ingat Khan-nya saja, karena marga “Khan” (tanpa Azmat) memang sangat populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan “Abdullah Khan” itu kurang tepat, karena “Khan” adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan marga Ba’alawi atau Al-Alawi Al-Husaini.
Ada yang berkata bahwa di India mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmatkhan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab. 
Sayyid Abdullah Azmatkhan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliaupun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan di dalam memperkenalkan sebuah budaya. Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya Barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat, tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. Maka bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda’wah di tanah Jawa. 
H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini melanjutkan: “Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu’azhzham Syah Maulana Ahmad.”
Nama beliau adalah Ahmad, adapun “Al-Amir Al-Mu’azhzham” adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang diagungkan, sedangkan “Syah” adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang Raja, bangsawan dan pemimpin, sementara “Maulana” adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama besar.
Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar “Syah Jalaluddin”. H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini melanjutkan: “Maulana Ahmad Syah Mu’azhzham adalah seorang besar, Ia diutus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia diangkat sebagai wazir (menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, Kamboja, Siam (Thailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.
Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya disertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar ‘Tajul-muluk’. Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana’uddin.”
Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa disebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tembahan, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin”. Adapun “Syahansyah” artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahansah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah saw. melarang pemberian gelar Syahan-syah pada selain Allah. 
Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau medirikan sebuah kesultanan di Thailand. Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.
Sayyid Husain memiliki tujuh orang putra sebagi berikut:
1. Sayyid Ibarahim, diketahui memiliki tiga orang putra yaitu:
• Maulana Ishaq (ayah Sunan Giri). Keturunannya ialah Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri) yang berketurunan Sayyid Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel).
• Sayyid Barakat, diketahui memiliki empat orang putra yaitu: Sayyid Abdurrahman Ar-Rumi, Sayyid Ahmad Syah, Maulana Malik Ibrahim (ketiganya belum ada informasi bahwa mereka memiliki keturunan), dan Sayyid Abdul Ghafur (diketahui memiliki satu putera yaitu Sayyid Ibrahim dan beliau diketahui memiliki dua putera yaitu Sayyid Fathullah (Falatehan) dan Nyai Mas Gandasari (Istri Sunan Gunung Jati).
• Sayyid Ali Nurul Alam, memiliki dua orang putra yaitu: Sayyid Abdullah ; berputra Syarif Nurullah dan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) yang menikah dengan cucu Sunan Ampel dan berputra Ja’far Ash-Shadiq (Sunan Kudus)
2. 
3. Sayyid Haji Utsman (Sunan Manyuran). 
4. Sayyid Fadhal (Sunan Lembayung). 
5. Sayyid Abdul Malik (Kami belum mendapatkan riwayat beliau dan belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan).
6. Pangeran Pebahar. Kami belum mendapatkan nama Arab dan riwayat beliau. Beliau adalah kakek dari Tuan Faqih Jalaluddin, Ulama Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin. Diketahui memiliki keturunan.
7. Yang ketujuh belum kami dapatkan nama dan riwayatnya dan belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan.

Adapun Sayyid Sulaiman Al-Baghdadi memiliki tiga orang putra dan seorang putri yang semuanya berdakwah dan meninggal di Cirebon Jawa Barat:
1. Syekh Datuk Kahfi.
2. Sayyid Abdurrahman (Pangeran Panjunan)
3. Sayyid Abdurrahim (Pangeran Kejaksan).

4. Syarifah Ratu Baghdad, menikah dengan Sunan Gunung Jati.

(pustakamuhibbin)